.

Berita Terbaru :

Agenda

Tampilkan postingan dengan label Bella Moulina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bella Moulina. Tampilkan semua postingan

Perjalanan Kami di #1thSIJ: Tetap Semangat dan Istiqomah

Senin, 06 Agustus 2012

Jargon dari Agnes Monica ini: “Dream, Believe, and Make it Happen” agaknya benar. Tentu saja karena saya sudah membuktikannya. Well, ketika kita percaya pada sebuah impian atau cita-cita, lalu kemudian kita bergerak untuk mewujudkannya, tidak menghiraukan apa kata orang, terus bergerak dan berjalan..dan tidak terasa impian itu terbukti nyata terjadi di hidup kita. Inilah yang saya alami di Sahabat Ilmu Jambi (SIJ).

 Ketika rasa skeptis akan hadirnya komunitas sosial di Jambi terhadang, dan pada akhirnya saya percaya komunitas ini mampu berjalan dikarenakan dukungan dari berbagai pihak, hingga 5 Agustus 2012 kemarin menjadikan SIJ genap berusia 1 tahun, adalah sesuatu hal yang patut disyukuri. Impian itu ada, nyata, dan karena mereka.

SIJ lahir karena kegelisahan saya melihat kenyataan bahwa mahasiswa di sekitar saya kurang hobi membaca dan menulis. Pun itu didukung dengan adanya kegiatan  sosial yang kurang muncul di Jambi. Ditambah pula melihat kondisi anak-anak kurang beruntung sulit mengakses bahan bacaan yang teramat tinggi harganya. Di satu sisi pula saya melihat pemuda di Muaro Jambi gencar melakukan kegiatan belajar gratis Sekolah Alam Raya (bang Borju) dan perpustakaan masyarakat yang hanya dijalani satu pemuda (bang Sarbini). Kemudian kegelisahan ini saya lontarkan kepada kak Meila, teman sekaligus kakak terunyu selama bekerja di Jambi Ekspres dulu. Ketertarikan yang tinggi terhadap membaca buku dan menulis juga menyerupai saya dengannya. Walhasil, ide ini dimatangkan dan dilemparkan ke Facebook dan Twitter. Responnya? Sungguh di luar dugaan, banyak anak muda Jambi yang tertarik bergabung menjadi relawan.

Kemudian kami kopdar di Unja Telanai pada 5 Agustus 2011, saat itu siang menjelang sore, dimana kami harus berpuasa di sela-sela kegiatan. Sekitar 10 anak muda berkumpul (seingat saya, namun saya lupa nama-namanya, masih sedikit samar-samar), kami membahas SIJ, visi misi dan tujuan serta kegiatan yang akan dilaksanakan. Akhirnya kami sepakat untuk mendampingi anak-anak di panti asuhan, tepatnya Panti Asuhan Darul Aitam dan Panti Asuhan Madinatul Aitam. Di satu sisi kami juga memberikan pelatihan kepada beberapa relawan yang pada waktu itu tertarik bergabung. Setelah konsep berjalan selama 1 bulan, kemudian pendampingan untuk meningkatkan minat membaca dan menulis di dua panti asuhan itu dimulai pada pertengahan September. Pendampingan yang dilaksanakan setiap hari sabtu selama 2 jam (15.00-17.00 WIB) tersebut belum seratus persen sesuai yang diharapkan kala itu, karena kami harus mencocokkan diri dengan kepribadian adik asuh. Pun di sisi lain kami terbatas pada kemampuan mendampingi. Hanya saja, saya hajar semua yang ada, saya katakan kepada teman bahwa kita bisa belajar apa yang kurang untuk dibenahi, jadi ya maju saja.

Ternyata pendampingan meningkatkan minat membaca dan menulis sesuai dengan visi misi SIJ itu saja tidak cukup. Perlu adanya komponen lain yang mendukung tujuan kami sukses. Kami pun memberikan pelatihan capacity building dan gathering yang diperuntukkan bagi relawan guna mengoptimalkan peran mereka sebagai kakak asuh. Pertemuan dua bulan sekali ini sangat penting agar sesama relawan dapat berinteraksi dan tidak ada gap diantaranya. Kemudian yang paling penting adalah menyatukan ide dan gagasan bagaimana pendampingan selama beberapa bulan dilaksanakan. Kami berdiskusi mengenai hal tersebut, tidak jarang kami menemui hambatan ketika seorang relawan mengeluhkan adik asuh yang sulit diatur. Gathering pun terasa lebih bermakna ketika masalah dapat dipecahkan bersama-sama. Sedangkan capacity building akan meningkatkan kualitas diri mereka sebagai anak muda Jambi yang memiliki jati diri (seperti ketika saya mendiskusikan soal passion).


Selain bagi relawan, adik asuh tidak luput dari perhatian kami. Beberapa program yang dijalankan bagi adik asuh selain pendampingan adalah Dare to Dream dan pelatihan. Meski kami belum memberikan pelatihan yang intensif kepada adik asuh, tapi program Dare to Dream agaknya membuat mereka mulai memikirkan bagaimana seharusnya cita-cita itu ada di hidup mereka. Ya, kami ingin membangkitkan impian dan cita-cita mereka yang mungkin saja terbentur dengan kondisi mereka. Maka lahirlah Dare to Dream, program dimana kami mendatangkan anak muda Jambi berprestasi yang telah menggapai impiannya. Mereka yang pernah berkesempatan hadir adalah Bona (pelukis), Dion (guru), dan Wawan (motivator). Program yang berlangsung selama dua jam ini diharapkan mampu menginspirasi adik asuh untuk berani bermimpi, setidaknya mereka mampu mengubah keadaan mereka menjadi lebih baik ketika mereka berusaha menggapai cita-cita.
Disamping kegiatan yang diperuntukkan bagi relawan dan adik asuh itu, kami juga membuka taman baca. Tidak pernah saya berharap lebih ada orang yang ingin menyediakan space rumah atau tempatnya untuk SIJ. Ternyata ini tidak terjadi. Justru ada yang menyediakannya untuk kami sebagai sarana sekretariat dan taman baca. Adalah Maul, relawan yang terhitung aktif sejak Desember ini memberikan warung milik alm.ibunya yang tidak terpakai lagi untuk kami gunakan. Masih terbayang bagaimana relawan bahu membahu membersihkan warung tersebut dan menyulapnya menjadi sekre dan taman baca yang keren. Pada akhirnya sekre dan taman baca itu diresmikan pertengahan Maret lalu, bertepatan dengan diliputnya SIJ oleh stasiun TV nasional DAAI TV yang berlokasi di Jakarta. Hingga kini pengunjung taman baca semakin bertambah, berasal dari kalangan SD hingga umum, mereka ada yang meminjam buku secara gratis (SD-SMP) dan membayar (SMA-Umum). Subsidi buku-buku relawan yang diletakkan disana juga membuat sekre dan taman baca kami lebih up to date dalam menyediakan bahan bacaan. Ini berkat usul dari Rikky, mengingat kami harus memikirkan segi ekonomis demi keberlangsungan SIJ. Saat ini taman baca selalu buka setiap hari dari pukul 14.00-17.00 WIB (kecuali selasa dan sabtu). Buku koleksi kami didapat dari para donatur yang berada di Jambi dan luar Jambi. Buku-buku tersebut juga menjadi bahan pendampingan kami agar adik asuh mau membaca.

Belum genap satu tahun umur SIJ dulu, alhamdulillah banyak pihak sponsor, media, maupun atas nama pribadi yang melirik kami. Bantuan berupa buku, dana, jasa, dan pemberitaan di media kami terima ketika SIJ belum genap satu tahun kala itu. Donatur pribadi dan organisasi (Indonesian Future Leaders) contohnya (baik berupa buku, dana, dan jasa) berdatangan dari wilayah Jambi, Jakarta, dan Palembang. Dari pihak sponsor, Kedai Kopi sering menyediakan tempatnya di lantai 2 untuk kami gathering, Temphoyac memberikan merchandise di setiap acara yang kami lakukan, kemudian Gramedia, Rumah Kenari, dan Nusantara Magazine memberikan donasi berupa buku baru dan bekas yang layak baca. Sedangkan pemberitaan soal SIJ telah dimuat di beberapa media lokal (Dira FM, Boss FM, Jambi Ekspres, Tribun Jambi, dan Jek Tv) serta skala nasional (DAAI TV dan Intisari).

Pemberitaan melalui media itu otomatis membuat SIJ semakin dikenal dan mendapatkan  dukungan dari berbagai pihak (meski hingga saat ini kami belum bekerja sama dengan pihak berlatar belakang pendidikan).
Di umur yang menginjak 1 tahun kemarin (5 Agustus) telah banyak membuat kami bersyukur sebagai komunitas sosial pendidikan yang konsisten menyuarakan pendidikan bagi kalangan grass root (akar rumput). Pendampingan di panti asuhan pun menunjukkan perkembangan yang lumayan baik, tercatat beberapa adik asuh kini mulai serius belajar, hobi membaca dan menulis, serta mau mengembangkan dirinya sesuai kecerdasan yang mereka miliki. Simpatisan dari dunia nyata maupun social media tidak berhenti mengalir untuk kami. Pun yang membuat saya bahagia adalah, semakin banyak anak muda Jambi yang menyadari pentingnya peran mereka sebagai changemaker (pembaharu) untuk berkontribusi aktif dan berbagi ilmu dengan kalangan kurang beruntung, disamping mereka juga butuh waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Meski begitu, dampak positif ini belum seratus persen baik, saya menyadari disana sini masih terdapat banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Contohnya soal pendampingan. Relawan pengin pendampingan di periode kedua ini dihadirkan dengan cara lebih fun, praktis, dan sambil belajar pula. Saya dan teman-teman pun berusaha mencari solusi ini bersama-sama, agar relawan dan adik asuh tidak jenuh dengan jenis pendampingan yang selama ini dilaksanakan. Di satu sisi, tentu harus ada tolak ukur yang jelas bagaimana anak sudah meningkat minat membaca dan menulisnya. Mengingat pula selama ini kami hanya melakukan pengamatan saja tanpa menuliskan perkembangan dari tolak ukur yang sudah ditetapkan. Pendampingan juga akan melibatkan beberapa praktisi pendidikan dan kewirausahaan, serta melihat sisi kecerdasan majemuk yang dimiliki setiap anak. Di sisi lain, tentu kepengurusan periode baru dan pembenahan internal SIJ akan dilaksanakan pula secepatnya. Saya pengin teman-teman bisa lebih berkomitmen dengan keputusan yang telah mereka ambil. Setidaknya kalau program ini berhasil secara maksimal, ini berkat relawan pula bukan?  Berbagai hal sudah banyak terlintas di benak saya dan teman-teman ketika rapat sebelumnya, insyaallah akan direalisasikan secepatnya setelah lebaran nanti. Ya, ini PR bagi kami yang harus secepatnya diselesaikan.
Harapan saya, di usia 1 tahun ini, SIJ semakin matang dalam menjalani perannya sebagai salah satu pendukung pendidikan adik asuh. Yang tidak boleh hilang itu adalah semangat dan istiqomah selama perjalanan menempuh kesetaraan pendidikan dalam menebar ilmu dan membuka cakrawala. Kalau kedua komponen hilang, entah apa jadinya SIJ. Mungkin SIJ bakal hilang dan tidak diperdulikan. Namun semoga saja itu tidak terjadi. Semoga kami tetap semangat dan istiqomah ya teman-teman :’) Dengan semangat itu pula kami ingin melaksanakan even yang bisa bekerja sama dengan beberapa stakeholders (pemerintah, pihak swasta, dan lainnya) dalam menyelenggarakan acara untuk anak muda Jambi. Pun kami tidak menampik bahwa SIJ kelak memiliki taman baca di daerah terpencil di Jambi, membantu anak-anak disana dalam mengakses bahan bacaan berkualitas. Di sisi lain, kami sepertinya akan melirik sektor wirausaha agar SIJ dapat mandiri secara finansial (karena selama ini kami sendiri yang mengisi uang kas sebesar Rp. 10.000/bulan). Tentu saja ini jangka pajang yang harus dilaksanakan bersama-sama. Itu semua tidak akan terwujud jika tidak ada peran serta relawan. Maka adalah sebuah keberuntungan dan kebahagiaan yang tidak terkira ketika saya melihat relawan tidak putus asa, mereka tetap mendampingi di sela-sela kesibukan mereka, dan selalu bersemangat mendampingi adik asuh, karena mereka menyadari perannya sebagai pemuda. Dimana kalau bukan kita sendiri yang memberikan perubahan sekecil apapun kepada adik asuh, siapa lagi? Perubahan tidak akan menunggu siapapun dan kapanpun. Semoga SIJ mampu memberikan perubahan bagi mereka melalui para relawan pantang menyerah! Dan Allah swt akan mengabulkan doa kita, amiiinnnnn.. Happy 1st anniversary Sahabat Ilmu Jambi!!

Ceritaku Hari Ini di Sahabat Ilmu Jambi

Sabtu, 10 Maret 2012


Aku tergabung dalam suatu komunitas namanya Sahabat Ilmu Jambi (SIJ). SIJ ini adalah komunitas yang punya visi untuk menumbuhkan minat baca dan tulis di kalangan anak kurang mampu. Jadi tuh, aku bareng anggota SIJ lainnya (yang disebut relawan) datang ke panti asuhan setiap hari sabtu dari jam 3 sampai jam 5 sore untuk mendampingi mereka baca, nulis, atau kadang kami berdongeng, saling cerita, dan main games. Panti yang kami datangi setiap sabtu adalah panti yang sama, kami nggak akan pindah dari panti tersebut sebelum misi kami tercapai.

Jadi relawan di SIJ itu nggak digaji, malah kitanya yang harus merelakan waktu, tenaga, dan dana demi SIJ ini. Karena kalau bukan kita yang peduli terhadap anak-anak generasi penerus bangsa ini, siapa lagi? Pemerintah? Pemerintah kayaknya udah kebanyakan kerjaan, daripada kita berdemo nggak di dengerin mendingan kita melakukan suatu tindakan.

Selama beberapa bulan jadi kakak asuh di panti asuhan, banyak pengalaman dan cerita yang aku dapet. Salah satunya kayak hari ini, sehabis aku ngajarin cara cepat menghafalpelajaran dan cerita tentang legenda sangkuriang sama adik asuh aku cerita-cerita bareng ibu panti. Dari ibu panti itu aku tau background beberapa anak disitu salah satunya ehm… sebut aja inisialnya R. nah si R ini baru satu minggu di panti ini, dia dianterin sama kenalan bapak tirinya. R diantar ke panti itu karena kenalan bapak tirinya ini nggak mau lagi nampung R di rumahnya. Sedangkan ayah R sendiri udah lama meninggal. Ibu kandung R menikah lagi sama orang lain dan…. membiarkan R diasuh di panti.
Miris. Kalau kata buku, guru, dan mamaku “nggak ada seorang ibu manapun yang tidak sayang dan nggak mau ngurus anak kandungnya sendiri”. Tapi kasus si R buktinya, emang sih aku nggak kenal dengan ibu si R dan nggak bisa bertanya langsung kenapa dia membiarkan anaknya di asuh di panti asuhan. Emangnya dia nggak sayang sama anaknya? Kenapa dia tega? Emangnya dia nggak mikir gimana terguncangnya jiwa R? R udah berumur 11 tahun, aku rasa dia sudah cukup mengerti dan paham akan rasa sakitnya di antar ke panti asuhan sedangkan dia masih punya ibu kandung yang sudah menikah lagi.
Ya Allah.. berikan yang terbaik untuk R. selama tadi aku di panti, wajah R keliatan ceria bareng anak-anak panti lain. Pas aku tanya dia suka baca buku apa dan minta dibawain buku apa minggu depan dia bilang minta dibawain majalah bola. Duh anak itu, di raut wajahnya nggak keliatan sama sekali kalau latar belakangnya seperti itu.
Si R sekarang belum sekolah. Masih menurut cerita bu panti, seharusnya R sekarang udah kelas 5 sd. Tapi terakhir dia sekolah Cuma sampai kelas 3 sd. Setelah masa ujian sekolah berakhir, baru ibu panti akan menyekolahkan R lagi. Tadi pas aku suruh nulis si R malah lupa-lupa ingat huruf-huruf alphabet. Membaca pun si R masih kurang lancar.
Ingin sekali rasanya aku merangkul R dan mengatakan dia harus kuat. Dia adalah salah satu pemimpin masa depan yang hebat nantinya. Dia harus punya mimpi dan semangat untuk mencapai cita nya. Semoga aku dan relawan SIJ lainnya bisa membantu dia untuk tetap ceria dan bersemangat untuk bermimpi dan mewujudkannya.

Sahabat Ilmu Jambi, menebar ilmu membuka cakrawala.

Sepucuk Surat Dari Kak Bella tentang SIJ

Hari Ini Bersama Sahabat Ilmu Jambi

Begitulah tagline kami, Sahabat Ilmu Jambi. ^_^ Kami, relawan Sahabat Ilmu Jambi sudah enam kali berkunjung ke panti asuhan, termasuk hari ini. banyak cerita yang kami peroleh selama berada di panti. Cerita yang menyenangkan, sedih, hingga menyebalkan kami dapatkan. Btw, karena saya sendiri sebagai penulis tadi berkunjung ke Panti Asuhan Darul Aitam, jadi saya lebih banyak cerita pengalaman saya dan teman-teman di Darul Aitam (DA) dibanding Panti Asuhan Madinatul Aitam (MA).
Sebelum berangkat ke panti tadi, kami para relawan berkumpul dahulu di lapangan tenis Universitas Jambi di daerah Telanai. Icha, Ana, Putzai, Irna, Dewi, Desi, Ein, Rara, Fani, Rini, Suci, Yani, dan saya sendiri membahas apa saja yang perlu diberikan kepada adik asuh ketika berada di panti tadi. Nggak hanya itu saja, pembahasan seputar apa yang terjadi di panti selama beberapa minggu juga diutarakan. Kebanyakan dari teman-teman relawan mengeluhkan sikap adik asuh yang agak rewel. Well, meski begitu saya terus memotivasi mereka untuk tetap semangat menghadapi adik asuh dengan tipe begini. Saya percaya di balik kerewelan mereka, adik asuh di kedua panti tersebut cerdas-cerdas kok ^_^
Selang beberapa jam, kami pun memutuskan untuk beranjak dari lapangan nan hijau tersebut. Kami kemudian menyebar ke dua panti, tim pertama ke MA dan tim kedua ke DA. Saya sendiri masuk ke DA, disusul oleh Lia, Taufik, dan Andi yang juga turut hadir di kegiatan kali ini. Guys, can you guess? Kondisi panti tadi riuh banget. Ketika kami datang, suara-suara adik asuh mulai berkumandang, hehe.. Saya yang sedari awal mewanti-wanti teman-teman untuk bersikap baik kepada semua adik asuh agak sedikit bingung juga. Adik asuh di DA memang butuh kesabaran yang esktra ketika menghadapi mereka. Nggak sedikit suara keras yang saya keluarkan agar mereka turut memperhatikan saya berbicara. Namun begitu kegiatan berlangsung seru lho, meski kami harus melewati momen agak menyeramkan tadi sore :’(
Oke, forget about that. I wanna tell you about our activity few hours ago. Kegiatan berlangsung selama dua jam. Setelah berbasa-basi dengan bapak panti, kami lalu bertemu dengan adik asuh. Satu jam pertama dihabiskan dengan bermain games kata yang dipandu oleh Irna, Icha, dan Dewi. Sementara adik asuh yang masih pre school diajak bermain dan mewarnai dengan Desi dan Lia. Sementara saya agak fleksibel, masuk ke grup ini dan itu, sambil sesekali motret. Saya menonton perilaku manusia hari itu. Saya rasa, menjadi pengamat orang itu asyik sekali :D (abaikan)
Permainan dilakukan oleh tiga kelompok yang dimenangkan oleh kelompok Juki dkk, sementara kelompok lain menduduki peringkat dua dan tiga. Pada permainan games tadi, mereka diberi beberapa kata yang dilanjutkan dengan pembentukan beberapa kalimat. Ketika ini berlangsuung sempat ada momen yang menyeramkan. Kedua adik asuh sempat berselisih dan mengakibatkan salah satunya menghilang tiba-tiba. So sad memang, tapi kami sebagai relawan telah berusaha sebaik mungkin untuk membawa mereka menjadi anak yang baik, bahkan ketika hal yang nggak diinginkan terjadi, kami hanya bisa mengurut dada. Berharap semua akan baik-baik saja setelahnya.
Nggak lama kemudian, kegiatan dilakukan dengan pendampingan tiap kakak asuh terhadap adik asuh. Masing-masing kakak asuh mendapatkan adik asuh mereka sesuai psikologis dan umur mereka. Saya yang kala itu mendapatkan adik asuh yang nggak hadir kakak asuhnya langsung mengajak Jefri, Lutfi, dan Riki. Lutfi adalah anak dari bapak panti, sedangkan Jefri dan Riki merupakan anak titipan orang tua mereka di panti DA. Mereka berdua saya kira berasal dari keluarga tidak mampu, maka dari itu sepanjang ngobrol dengan mereka (sesuai gaya anak muda tentunya) saya bawa nyantai aja, nggak serius, dan berusaha memasuki dunia mereka. Kebetulan mereka bertiga adalah siswa kelas V SD, jadi perilaku dan usia mereka pun sesuai.
Pertama-tama saya ajak mereka berbicara tentang hal yang mereka sukai, pelajaran apa yang membuat mereka senang di sekolah, apa saja aktivitas yang membuat mereka tertarik, dan sedikit cerita soal keluarga mereka. Setelah itu dirasa cukup, saya mulai mengajak mereka untuk merenung bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang cerdas (pintar) untuk melanjutkan perjuangan Pak Soekarno-Hatta agar orang Indonesia nggak bodoh. Saya bilang begini ama mereka.
“Zaman dahulu waktu kita belum merdeka dan masih dijajah ama Belanda, Jepang, dan lain-lain, apa kita sudah pintar?” kata saya.
                “Belum kak, masih bodoh. Tapi waktu kita sudah merdeka, kita pintar semua,” ujar mereka bertiga serempak.
                “Nah kalau gitu, apa kalian mau jadi orang yang bodoh? Kalian tentu mau kan melanjutkan perjuangan Pak Soekarno-Hatta supaya orang Indonesia pintar-pintar?” Saya menatapa mereka.
                “Iya kak, mau,” mereka juga menjawab serempak.
                Kemudian saya lanjutkan lagi begini, “Kalian mau jadi orang pintar dan sukses, serta membahagiakan orang di sekitar kalian kan? Kuncinya apa?”
                Mereka sontak menjawab berbarengan lagi, “Belajar kak.”
Sampai disini saya bahagia mendengar pernyataan tulus mereka. Nggak sia-sia saya mengajak mereka mengobrol ngalor ngidur soal hidup mereka, ternyata mereka begitu menyadari peranan penting mereka sebagai generasi penerus bangsa.  Sampai disini saya terharu mendengarnya. Semangat saya berkobar-kobar berkat mereka. Harapan besar saya tumbuhkan kepada mereka, “Meski kalian berada dalam lingkungan yang serba kekurangan, tapi tunjukkan kalau kalian bisa. Tunjukkan kalau kalian mampu dan berhasil kelak, serta meraih cita-cita. Buat keluarga dan orang terdekat bangga dengan kalian ya, dan janji sama kakak kalau kalian akan jadi anak Indonesia yang cerdas ya?” saya mengucapkan kalimat ini dengan tegas. Lalu berkumandanglah pernyataan mereka ini seiring ditutupnya pendampingan adik asuh sore itu. Saya lega, haru, dan menaruh harapan besar kepada hidup mereka. :’)
Di akhir pertemuan, kami memberikan motivasi lagi kepada mereka. Selain itu, pemberian cokelat bagi grup yang memenangkan permainan hari itu juga selesai dilaksanakan. Namun karena sisia cokelat banyak, jadi dibagikan kepada semua kakak dan adik asuh yang ada di panti. Mereka bersuka cita, senang banget dapat hadiah atau makanan pemberian dari relawan. Melihat mereka menengadahkan tangannya bikin saya nggak tega. Mereka begitu bersemangat untuk mendapatkan cokelat seraya berkata, “Kak, minta, kak, kami belum, kak.” Ya Tuhan, sampai disini saya hanya memanjatkan untaian kalimat doa untuk mereka. “Jaga hidup mereka dalam lindunganMu. Bahagiakan mereka di saat jauh dari orang tua. Tuntunlah mereka untuk jadi anak Indonesia yang cerdas dan mampu membahagiakan orang terdekat. Dan bukakan pintu hati mereka untuk tulus belajar, membaca, dan menulis, serta bermain bersama kami.”
Guys, SIJ nggak bakal ada kalau nggak ada komitmen serta kepedulian teman-teman relawan. Saya sangat berterima kasih kepada relawan SIJ yang mau meluangkan waktunya untuk berbagi bersama mereka. Saya nggak bisa memberikan uang ataupun membalas jasa mereka dengan bentuk apapun, hanya doa terbaik agar ilmu yang mereka sampaikan barokah selalu saya panjatkan. Saya percaya relawan ini adalah pemuda terbaik Jambi yang kerjanya nggak cuma jadi anak hedonis saja, saya percaya suatu saat Jambi bakal bertambah baik jika memiliki pemuda seperti mereka ini :’)
Akhirnya, hari ini ditutup dengan senyuman saya kepada mereka. Senyuman ini menaruh harapan besar bagi semua relawan dan adik asuh untuk terus bersemangat saling berbagi, saling menghargai, dan saling menginspirasi. Perubahan besar dimulai dari langkah kecil, dan saya yakin perubahan itu bisa terwujud jika semua relawan mampu berkontribusi nyata bagi Jambi. Kita sebagai pemuda sebaiknya nggak hanya ngomong doang, namun bisa bertindak nyata dalam membantu Indonesia agar lebih baik lagi. Terima kasih, terima kasih, terima kasih..kalian hebat :’)
“Jika seorang pemuda yang berumur 21 tahun namun belum berkontribusi nyata bagi daerahnya dan hanya berpikiran untuk dirinya (hidup hedonis dan berada pada zona nyaman), lebih baik jangan jadi pemuda.” -> quote ini bikin saya kecil hati, apa yang sudah saya berikan bagi Jambi? Mari sadari diri kita, SIJers ^_^

Ada Semangat Pada Kalian, Sahabat Ilmu Jambi

“Sejak kakak semua ada di panti, kami yang dulunya malas belajar kini jadi semangat belajar. Kami sekarang perlahan-lahan mulai suka baca dan nulis berkat bimbingan kakak. Yang paling penting, kami lebih mengert tentang apa yang harus dilakukan, dan kami senang dengan kehadiran kakak.”
Begitulah kira-kira segepok kalimat yang saya dengar dengan tulus, jujur, dan tanpa paksaan dari mereka sore tadi. Saya tidak memaksa mereka untuk berkata yang baik-baik saja tentang relawan SIJ, saya meminta mereka menyuarakan apa yang mereka rasakan terhadap kehadiran Sahabat Ilmu Jambi di tengah mereka. Saya bilang kalau mau kritik kami juga boleh. Tak disangka kalimat itulah yang keluar dari mulut Suli, Juki, Ibnu, dan Miko. So touchy guys :’)
Setidaknya saya punya banyak alasan kenapa ingin mempertahankan komunitas ini tanpa saya harus keluar setelahnya, atau malah membubarkan komunitas ini karena tidak adanya sumber daya manusia yang bisa diandalkan. Setidaknya relawan SIJ perlahan mulai memasuki hati mereka, dengan caranya sendiri, menyentuh kehidupan kaum dhuafa yang masih cilik itu dengan ketulusan hati. Setidaknya adik asuh kami merasa senang ada yang memperhatikan hidup mereka, memperhatikan bahwa masih ada pemuda di Jambi yang peduli dengan masa depan mereka. Setidaknya saya cukup bahagia hari ini di tengah kegalauan hidup yang tak mungkin disebutkan satu persatu disini.
3 Desember 2011 lalu, SIJ memberikan semacam arahan kepada relawan tentang bagaimana seharusnya komunitas ini berjalan. Bertempat di Keiko, saya dan teman-teman saling tukar ide, bercerita soal keluh kesah di panti, memberikan saran untuk relawan kedepannya, dan merumuskan beberapa hal terkait job description relawan dan pengurus agar lebih baik. Ada saran dari salah satu relawan, Rikky, yang menyarankan agar SIJ punya goal setiap bulan atau per dua/tiga bulan agar komunitas ini jelas memberikan arahan kepada relawan, dan kemudian ditindaklanjuti kepada adik  asuh.
Lain lagi halnya dengan kak Meila yang memberikan harapannya agar relawan mau berkomitmen setidaknya dua jam saja setiap minggunya untuk mendampingi adik asuh. Jika relawan beberapa minggu tidak datang, maka kekacauan bukan terjadi pada komunitas ini, namun justru pada adik asuh. Hal ini mulai terlihat jelas ketika setiap minggunya, relawan yang datang ke panti selalu berbeda. Dan menimbulkan kalimat seperti ini yang saya dengar, “Kak, mano kakak kemarin? Kok kakak yang datang tuh baru lagi? Sabtu besok kagek kakak baru lagi yang datang, kek mano kak?” Oh well, dengan bersabar saya bilang, “Tunggu saja kedatangan mereka ya, saat ini hanya beberapa yang datang, tidak apa-apa kan, dek?” Ya, itu segelintir kalimat jujur yang saya dengar setiap memasuki panti Darul Aitam, dimana saya juga mendampingi Juki, Ibnu, dan Ansyah disana.
Kami berusaha menghibur mereka atau memberikan guyonan agar mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tapi lama-lama saya jadi kasihan dengan psikologi mereka. Berubah-ubahnya kakak asuh yang datang (tidak tetap dan tidak sesuai dengan kakak asuh yang mereka temui tiap minggu) membuat mereka tentu bingung. Dan kakak asuh yang sudah lama tidak nimbrung juga pasti bingung karena susah untuk beradaptasi. Jika seperti ini, saya mengembalikan semuanya kepada teman-teman relawan. Tidak ada paksaan bagi teman-teman, namun kami juga mesti memikirkan kelangsungan pendampingan teman-teman kepada adik asuh. Jika sesekali datang, sesekali tidak, atau tidak sama sekali, hal ini bikin mereka bingung. Ujung-ujungnya bagaimana pendampingan setiap adik asuh akan optimal? Semoga teman-teman mampu menjawab pertanyaan ini masing-masing ya. Sekali lagi saya tidak menekan teman-teman, semua keputusan saya limpahkan kembali kepada teman-teman ^_^
Dalam gathering di Keiko dua minggu yang lalu juga kami menerima kabar baik. Maul, anggota kami yang baru bergabung memberikan fasilitas kepada komunitas yang masih kecil ini :’) Ya, warung ibu beliau yang tidak terpakai disulap menjadi sekretariat SIJ! Woow, that’s great, pikir saya. Dengan adanya sekre, kami tentu akan lebih produktif lagi mengadakan pertemuan, saling tukar pikiran, dan tentunya mewujudkan taman baca gratis bagi masyarakat di sekitar Jambi, bukan? Nah dalam dua minggu ini, relawan pun berbondong-bondong ke rumah maul untuk membereskan sekre tersebut, mulai dari mengangkat barang-barang ke luar warung, hingga memberikan sentuhan estetika untuk mempercantiknya. Kami juga menyampul buku dan mengorganisirnya agar terlihat baik. Terima kasih untuk Maul dan sekeluarga yang telah memberikan tempat bagi SIJ ya! Kayaknya nggak percaya deh orang yang baru masuk ke komunitas ini mau-maunya kasih tempat untuk kita. Terlebih lagi, saya dapat pelajaran baru dari Maul ini. Anak hebat dan tegar!
Setelah gathering yang dihadiri oleh 20 relawan tersebut, kami mulai masuk panti lagi. 10 Desember dan 17 Desember adalah dua hari dimana kami kembali mendampingi mereka sebagai kakak asuh. Banyak ide bergulir di komunitas ini, dari kegiatan lomba dalam peringatan Hari Ibu, diundang oleh radio Dira senin esok, membuat rencana per bulan dan target yang harus dicapai, mengorganisir taman baca, bikin pamflet, pendelegasian beberapa relawan untuk mengikuti forum nasional, inovasi pendampingan setiap minggu, dan lainnya mesti dipikirkan sebelum awal tahun tiba. Kami ingin agar SIJ kedepannya nggak hanya sekedar komunitas berlabel komunitas tanpa memberdayakan pemuda di dalamnya dan tanpa memberikan tujuan jelas bagi adik asuhnya. Makanya sejak saat ini, saya sedikit memotivasi teman-teman, bahwa SIJ bukan saja meminta tenaga dan pikiran kalian untuk menjadi relawan, namun membuat kalian mampu bekerja sama dengan baik, mampu berkomunikasi dengan semua relawan tanpa harus membuat gap, mampu berkontribusi terhadap ide yang ditelurkan, dan mampu menjadi pribadi yang solutif, serta mampu-mampu lainnya yang membuat mereka berlabel “Pemuda Plus”.

Relawan SIJ sebelum melakukan pendampingan kumupl dulu membentuk lingkaran :)
Menemukan SIJ seakan menemukan keluarga baru. Disini saya kadang bahagia, marah, kesal, bingung, tertawa, dan konyol. Kita sama-sama masih belajar, jadi tidak ada salahnya jika teman-teman memberikan saran bagi SIJ kan? Correct me if I’m wrong. Beritahu saya jika di dalam diri ini perlu diperbaiki. Yakinlah Indonesia masih punya stok pemuda yang banyak, yang hebat, dan nggak hanya memikirkan dirinya saja. Masih ada kaum dhuafa yang perlu uluran tangan kita. Dan itu kalian: Relawan SIJ! Saya percaya adik asuh kita itu suatu saat akan merasakan manfaat kehadiran kita yang berbulan-bulan di panti, mereka tidak akan lelah bermimpi jika kita terus memompa semangat mereka. Lama kelamaan mereka pun akan menyadari bahwa membaca dan menulis itu penting sekali bagi masa depan mereka. Guys, masa depan dimulai dari sekarang, jadi kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan mereka? Mari menebar ilmu dan membuka cakrawala bersama, tanpa letih, tanpa ngeluh, dan tetap tersenyum! We can do it! Arigato gozaimasu ^_^

Menjadi Relawan di Sahabat Ilmu Jambi

Kata Ibu Tri Mumpuni, sesuatu hal jika dikerjakan dengan konsisten, fokus, dan amanah, maka menghasilkan perubahan positif. And I believe what she says! Sama seperti apa yang telah teman-teman relawan lakukan di komunitas sosial Sahabat Ilmu Jambi, kegiatan pendampingan di panti asuhan yang bermula dari hal-hal kecil tersebut suatu saat akan mengalami peningkatan yang lebih baik, asalkan semua relawan dan adik asuh konsisten, fokus, dan amanah. Now, I wanna tell about Sahabat Ilmu jambi.
SIJ, satu hal yang dulu terpikir di benak saya untuk membuat komunitas dengan background pendidikan. Namun di sisi lain, saya takut nggak punya teman dan nggak dapat dukungan dari banyak orang. Hingga akhirnya setelah balik dari KKN di Desa Muaro Jambi, keinginan untuk membuat komunitas yang bergerak nyata di Jambi tidak bisa ditolerir lagi. Kemudian saya menyampaikan keinginan tersebut kepada kak Meila. Kami pun sepakat untuk mendirikan SIJ, nggak peduli apa bakal banyak orang yang mendukung atau malah mencemooh. The most important is, let’s start!
Terbentuk pada 5 Agustus 2011 di Unja Telanai, saya dan beberapa orang teman kala itu menyepakati keberadaan SIJ di Jambi. Kami ingin berbuat sesuatu yang buka sekedar wacana. Dengan keinginan tulus tanpa niat apapun, membuat anak-anak kurang beruntung bisa mendapatkan ilmu gratis dan cakrawala hidup bertambah. Menjelang 7 bulan kehadiran SIJ di Jambi, kami memang masih kecil. Pendampingan di panti asuhan pun perlahan-lahan ada kemajuan, sejak pertama kali pada tahun lalu kami masuk ke panti hingga melakukan pendampingan setiap minggunya, anak-anak sudah mulai dididik dan diajak hobi membaca dan menulis.
Sabtu kemarin, 25 Februari, kami mengadakan gathering kedua di Kedai Kopi (terima kasih mas Rahmad atas peminjaman tempatnya :D ). Gathering kedua merupakan tempat kami berkumpul dan mengevaluasi pendampingan selama tiga bulan terakhir (Desember-Januari-Februari). Hasil pemantauan saya terhadap perkembangan minat membaca dan menulis dari relawan yang menjadi kakak asuh adalah kami masih perlu meningkatkan tujuan menjadi 60% untuk melengkapi 100% tercapainya tujuan di dua panti yang kami bina.
Yup, semua butuh proses, saya percaya relawan sudah berusaha semampu mereka untuk mengenal adik asuh, mengetahui kecerdasan, meningkatkan minat membaca dan menulis, menambah ilmu pengetahuan mereka, memotivasi mereka untuk belajar lebih rajin, dan lainnya. Tentu saja apa yang kami lakukan tidak terlepas dari pribadi sang adik, saya berharap adik asuh di dua panti tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan berbagi ilmu yang kami berikan. Sesuai harapan saya dan teman-teman, meski mereka berasal dari kategori kurang beruntung, tentunya kehadiran SIJ dapat memotivasi mereka untuk mendapat ilmu lebih baik!
Btw, gathering di Keiko kemarin juga memberikan pelatihan kerelawanan dan program pendampingan adik asuh. Teman-teman sangat antusias mengajukan pertanyaan dan berdiskusi bersama-sama. Ini yang bikin saya semangat! Ternyata saya nggak sendirian, saya memiliki banyak teman-teman yang konsisten, fokus, dan amanah dalam menjalankan kewajiban sebagai warga negara: MENCERDASKAN ANAK BANGSA. Senang sekali rasanya jika kami bisa berkolaborasi dan memiliki visi misi yang sama. Saya yakin perjuangan ini nggak berhenti sampai disini saja. Ia akan berkelanjutan, SIJ akan terus ada, hingga semua anak-anak Jambi hobi membaca dan menulis ^_^
Guys, kami percaya SIJ nggak akan bisa berjalan tanpa dukungan dan kerjasama orang lain. So that, kami membutuhkan beberapa relawan untuk menjalankan visi misi di kedua panti asuhan. Nah, buat kalian yang tertarik menjadi relawan sekaligus kakak asuh untuk meningkatkan minat baca dan nulis mereka, so join us! What you have to do is peduli, berkomitmen dalam pendampingan sabtu sore jam 3-5, bisa diajak kerja sama, menyukai anak-anak, dan memiliki passion di bidang pendidikan, serta hobi membaca dan menulis. Interested to be part of our volunteer? Kebetulan banget nih, kita lagi mengadakan perekrutan relawan hingga kamis besok! So, send your curriculum vitae, riwayat organisasi dulu dan sekarang, serta alasan mengapa ingin bergabung menjadi relawan SIJ ke email: sahabatilmujambi@gmail.com.
Yang perlu kalian ketahui adalah kita tidak memberikan uang atas kebaikan dan jiwa sosial kalian dalam mentransferkan ilmu, but we give a place to contribute yourself in improving their anthusiasm on reading and writing, and sharing knowledge for Jambi kids. Untuk info lebih lanjut, bisa hubungi saya ya ^_^ Yuk menebar ilmu dan membuka cakrawala!
(NB: Para relawan yang telah lolos seleksi menjadi kakak asuh nantinya akan mendapatkan pelatihan setiap bulan, mendapatkan sertifikat untuk setiap periode yang telah disepakati, berkesempatan menjadi Volunteer of the Month, dan mendapatkan pahala atas kebaikan yang telah dijalankan, hehe)

Catatan Relawan

Daftar Buku Hadiah

 

© Copyright Social Education Community: Sahabat IlmuJ ambi 2010 -2011 | Design Edited by Mr_ikky | Published by Sahabat Ilmu Jambi | Powered by Blogger.com.